Membangun Hubungan yang SehatSample

Membangun Hubungan yang Sehat dan Aman
Sebuah hubungan hanya akan sehat, sama seperti individu yang ada di dalam hubungan tersebut. Ibarat memasak sebuah omelet, bila satu telur saja di dalamnya busuk, maka keseluruhan omelet itu tidak akan bagus lagi kualitasnya. Kita tidak dapat mengendalikan kesehatan orang lain, namun kesehatan spiritual, mental, dan bahkan tubuh kita berada di dalam kendali kita.
Dalam setiap hubungan yang kita bina dengan beragam orang, ada satu kesamaan “bahan” di dalamnya, yaitu diri kita sendiri. Jadi, bila Anda ingin membangun hubungan yang sehat, maka mulailah membangun diri Anda menjadi sehat terlebih dahulu.
Dalam Lukas 10:27-28, Yesus mengajarkan prinsip kasih. Kasih secara vertikal harus terjadi terlebih dahulu, baru kasih secara horizontal dapat terjadi. Kasihi Tuhan terlebih dahulu. Semakin kenal Tuhan, semakin kita mengenal diri kita sendiri. Kalau kita mengasihi diri, akan lebih mudah untuk kita mengasihi orang lain. Banyak dari kita memiliki hubungan yang tidak sehat karena hubungan dengan Tuhan dan diri sendiri belum benar terlebih dahulu.
Sehat bukan berarti sempurna. Sehat di sini berarti kita sudah berdamai dengan Tuhan, diri sendiri, dan kemudian dengan orang-orang di sekeliling kita. Kita menyadari bahwa kita dikasihi Allah sedemikian rupa sampai Kristus rela mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Hal ini menjadikan kita memiliki identitas baru sebagai anak Allah yang berharga di mata-Nya.
Kita berdamai dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, karena kita menyadari di mata-Nya, kita “sempurna” di dalam Kristus. Dengan kacamata ini, kita membawa perspektif kasih karunia ke dalam setiap hubungan kita. Kita mau mengasihi seseorang karena Tuhan mengasihinya. Kita memperlakukannya dengan baik karena dia berharga juga di mata Tuhan.
Hubungan yang sehat juga hanya dapat dibina bila ada kepercayaan di dalamnya. Hubungan pribadi kita dengan Tuhan dimulai dengan kita percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Hubungan kita dengan sesama juga hanya dapat kuat bila ada fondasi kepercayaan. Tentunya, kepercayaan tidak dapat sembarangan diberikan. Kita harus melihat apakah orang tersebut layak dipercaya atau tidak.
Seseorang dapat dipercaya bila ia menunjukkan kualitas-kualitas sebagai berikut:
-Autentik (asli, apa adanya)
Seseorang yang dewasa, utuh, dan berintegritas: perkataan dan perbuatannya selaras (1 Yohanes 3:18)
-Konsisten
Seseorang yang selalu menepati janjinya, hadir secara setia di dalam kehidupan. Sikap konsisten akan secara alami menumbuhkan rasa aman di dalam hubungan tersebut.
-Empati
Seseorang yang peduli dan dapat merasakan apa yang kita rasakan. Tidak meremehkan perasaan atau mengecilkan situasi yang kita alami.
Banyak hubungan menjadi tidak sehat karena kita tidak menunjukkan kualitas tersebut atau juga kita menjalaninya dengan orang yang tidak layak dipercayai. Ketika terjadi kebohongan, terjadi sebuah keretakan dalam fondasi kepercayaan hubungan tersebut. Ketika kepercayaan tersebut akhirnya runtuh, sulit sekali untuk kita merasa aman di dalam hubungan.
Kepercayaan dapat dibangun kembali sedikit demi sedikit melalui periode waktu yang lama disertai dengan perubahan sikap yang konsisten. Pengampunan tidak serta merta mengembalikan rasa kepercayaan kita. Banyak orang berpikir dengan mengampuni, maka berarti kita menerima kembali orang tersebut dalam kehidupan kita sebelum ada perubahan sikap yang nyata. Hal ini tentu saja membuat siklus hubungan tidak sehat terulang kembali dan kita akan dikecewakan lagi di kemudian hari.
Berilah kepercayaan kepada orang yang layak dipercayai. Jadilah pribadi yang sehat terlebih dahulu dengan berdamai dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang-orang di sekeliling kita. Dengan kekuatan Tuhan, kita dapat membangun dan memiliki hubungan yang sehat dan aman dalam hidup kita.
Sebuah hubungan yang sehat tidak menjatuhkan Anda, melainkan membuat Anda semakin baik lagi hari demi hari.
Scripture
About this Plan

Di era yang mengedepankan kebebasan ekspresi individu, menavigasi hubungan menjadi penuh paradoks dan dapat menyebabkan kita kebingungan. Kita perlu belajar mengenali rancangan Tuhan terhadap hubungan, yang memiliki batasan-batasan sehat dan berakar kuat dalam kasih-Nya. Dengan nilai-nilai kerajaan Allah, kita dapat berbuah dalam setiap hubungan dan membangun support system yang kuat dan Alkitabiah.
More
Related Plans

The Intentional Husband: 7 Days to Transform Your Marriage From the Inside Out

Wisdom for Work From Philippians

Blindsided

Journey Through Leviticus Part 2 & Numbers Part 1

Create: 3 Days of Faith Through Art

Hope Now: 27 Days to Peace, Healing, and Justice

The Revelation of Jesus

Unbroken Fellowship With the Father: A Study of Intimacy in John

Healthy Friendships
