Renungan Masa Raya Natal: Pelita Di Tengah GulitaSampel

Adven 1
Bagaimanakah Engkau Menjalani Hidupmu?
Yesaya 2:1-5, Matius 24:36-44
Socrates, seorang pemikir zaman Yunani kuno, pernah berujar bahwa “hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dihidupi”. Ia menyampaikan perkataan tersebut dalam konteks kehidupan manusia yang seharusnya diarahkan demi kebajikan untuk pemeliharaan jiwanya. Namun dalam pengamatannya, manusia seringkali terlupa akan kewajibannya. Mereka memilih terhanyut dalam banalitas kehidupan. Hanya menjalani apa yang menjadi rutinitas dan seringkali bergerak ke arah massa bergerak, tanpa berpikir apa maknanya bagi diri kita. Meskipun terbentang jarak ribuan tahun lamanya dari masyarakat Yunani kuno, bukankah kehidupan di zaman modern juga seperti itu? Kita sibuk pada hal-hal yang sebenarnya menjauhkan kita dari otentisitas, perjalanan menjadi diri sendiri. Berjibaku dengan tuntutan kerja sehari-hari, mimpi-mimpi yang terkubur pahitnya realita, situasi dunia yang dilanda krisis, hingga kepada pilihan-pilihan salah yang mengarahkan kita pada pemenuhan hasrat serta hawa nafsu yang tiada berujung.
Pada saat ini kita hendak memulai masa Adven-Natal dengan sebuah kesadaran akan makna kehidupan yang seharusnya kita hidupi sebagai seorang Kristen. Rupanya makna itu ditemukan justru dalam relasi dengan Allah dalam Kristus Sang Penebus. Secara khusus melalui penelaahan atas dua bacaan kali ini, kita diajak untuk berefleksi atas kehidupan masing-masing serta tugas dan tanggung jawab seorang Kristen ketika mengingat akan datangnya hari akhir. Yesus menegaskan dalam Injil Matius 24 akan datangnya hari Tuhan. Masa dimana semuanya berakhir dan Tuhan datang kembali untuk menghakimi umat-Nya. Ia memberitahukan hal tersebut bukan agar umat Tuhan berspekulasi tentang kapan datangnya hari tersebut, karena kapankah datangnya waktunya, tidak ada yang tahu (ay. 36). Maka yang Tuhan kehendaki adalah agar manusia mengingat akan tugas-tugasnya dalam menyambut hari tersebut. Apakah itu?
Pertama, Tuhan menghendaki umat-Nya untuk selalu bersiap akan datangnya hari Tuhan dan jangan lengah. Ia mengingatkan murid-murid-Nya akan peristiwa Nuh (ay. 37-39). Orang-orang pada masa itu menjalani aktivitas mereka seperti adanya. Mereka memilih bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu saja. Mereka terjebak dan baru sadar ketika saat kritis sudah menimpa mereka. Bukankah pada hari ini tindakan masyarakat di zaman Nuh juga merasuk dalam masyarakat kita? Hidup seolah tiada hari lain dan mengarahkan segala sesuatunya demi pemenuhan hawa nafsu. Tanpa sadar manusia diperhamba oleh keinginannya sendiri. Sebuah ironi yang menghentak dan menampar segala perasan kemerdekaan dan kebebasan kita. Manusia modern seolah bebas berpijak di atas kakinya sendiri, padahal dirinya dikurung oleh hasrat akan materi yang tiada berujung. Saat Tuhan datang dan meminta pertanggungjawaban atas hidup dan anugerah-Nya yang telah diberi, kita hanya bisa terdiam dan terpaku. Lupa akan tugas-tugas kita.
Kedua, kesiapan seseorang tidak dapat diukur dari tampilan luarnya, hanya Allah yang mengenali hati serta hasrat manusia yang terdalam. Itulah yang dimaksud oleh Yesus saat Ia menyampaikan perumpamaan mengenai kedua orang yang berada di ladang , dimana yang satu dibawa dan yang lain ditinggalkan (ay. 40). Mereka melakukan kegiatan yang sama, tetapi yang satu tampaknya siap untuk kedatangan Anak Manusia yang akan membawanya masuk ke dalam kemuliaan Kerajaan Allah, sedangkan yang lain tidak siap lalu ditinggalkan di luar. Maka soal kesalehan dan ketaatan hidup kepada perintah-Nya tidak dapat dinilai secara sepihak melalui tampak luar seseorang. Hanya Tuhan yang mengetahui hati yang terdalam. Sedangkan kita seringkali terjebak untuk melakukan penilaian atas orang lain dan merasa paling benar.
Ketiga, berjaga-jagalah karena hari Tuhan akan datang dengan tidak terduga. Yesus menyampaikan pokok tersebut dengan menggambarkan kedatangan hari Tuhan seperti rumah yang kebobolan pencuri. Seorang pemilik yang tahu kapan pencuri akan datang tentu akan bersiap-siap dan meningkatkan kewaspadaan. Saat kedatangan Tuhan tidak mungkin diketahui jam dan waktunya. Ia akan datang dengan mendadak. Maka teruslah berjaga dan bersiap menyambut kedatangan Tuhan.
Menyambut Tuhan yang akan datang berarti kesediaan untuk hidup dalam terang firman-Nya. Sebagaimana yang dikatakan dalam Yesaya 2:5, “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan dalam terang TUHAN!” Jika Tuhan adalah terang, maka anak-anak Tuhan tidak mungkin berdiam dan berjalan dalam kegelapan. Manusia yang berdiam dalam keberdosaannya dan menolak untuk memohon ampun kepada Tuhan dan mereka yang melakukan segala sesuatu dengan seenaknya sendiri tanpa memikirkan sesama dan ciptaan Tuhan lainnya, adalah orang yang berjalan di dalam gelap. Adven berarti masa penantian, oleh sebab itu dalam masa penantian ini marilah kita menilik hati dan pikiran masing-masing. Sudahkah kita menjalani hidup dalam terang-Nya? Jangan-jangan kita hidup dan menjalani kehidupan seperti orang yang tidak takut akan Tuhan. Hanya diri sendiri yang kita pedulikan dan tiada yang lain. Berjaga-jagalah dan bertobatlah.
Pertanyaan reflektif :
Sudahkah kita menjalani kehidupan seturut firman-Nya sebagai bagian dari kesiapan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan?
Firman Tuhan, Alkitab
Tentang Rencana ini

Di tengah keresahan dan bayangan kegelapan dunia, terang Kristus tetap hadir sebagai sumber pengharapan. Masa Adven mengajak kita menata hati, menapaki perjalanan rohani menyambut Sang Terang sejati—bukan sekadar menghitung hari menuju Natal, tetapi menyiapkan batin agar Kristus lahir dalam hidup yang sering diliputi gelap. Melalui Renungan Masa Raya Natal, kita diajak menapaki perjalanan iman di masa Adven, Natal, hingga Tahun Baru, dari gulita menuju terang. Renungan ini menjadi undangan untuk menghidupi terang Kristus kini dan di sini, sebab di mana Kristus hadir, di sanalah kegelapan dikalahkan oleh kasih sejati.
More
Kami mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) yang telah menyediakan rencana ini. Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi: www.alkitab.or.id
Rencana Terkait

Lepas Dari Hukuman

5 Hari Ketika Tuhan Berdiam Diri

Datanglah, Roh Kudus: Sebuah Perjalanan Melalui Kisah Para Rasul Bersama Lumo

Anugerah bagi Semua | 5 Renungan Natal tentang Yesus

7 Hari Mencari Jeda

Melihat Campur Tangan Tuhan
