Yesaya 53:2-10

Yesaya 53:2-10 TSI

Sang hamba itu hidup dekat dengan TUHAN sejak masa kecilnya seperti tunas pohon melekat pada induknya. Dia akan berjuang menjalani hidup yang berat bagai benih berusaha tumbuh di tanah yang kering. Dia bukan orang besar atau terhormat, sehingga orang tidak memandangnya. Penampilannya pun biasa saja, sehingga tidak menarik perhatian. Dia dihina dan ditolak. Dia terbiasa dengan hidup yang berat dan akrab dengan penderitaan. Saat dia dicerca, tidak ada yang sudi melihatnya. Semua orang meninggalkan dia dan tak ada yang peduli padanya. Padahal dialah yang mengangkat serta menanggung kelemahan dan penyakit kita. Tetapi kita mengira dia dihukum Allah karena dosanya sendiri. Sebenarnya, dia ditikam sebagai hukuman atas pemberontakan kita. Dia dihajar karena dosa-dosa kita. Dia disiksa, dicambuk, supaya kita tidak dihukum, supaya kita yang sudah rusak dipulihkan. Kita semua sudah meninggalkan Allah seperti domba yang meninggalkan gembalanya sehingga tersesat. Tetapi TUHAN menanggungkan semua hukuman kita kepada hamba-Nya itu. Sang hamba itu dianiaya dan diperlakukan dengan kejam, tetapi dia tidak mengatakan apa pun untuk membela diri. Dia hanya diam, seperti anak domba jantan yang akan disembelih atau domba yang dipangkas bulunya. Dia disidang dengan tidak adil. Dia dihukum mati meskipun tak bersalah, dan tidak ada yang mempedulikannya. Dia disiksa karena pelanggaran kita, umat Allah. Dia tidak melakukan kesalahan dan tak pernah menipu, tetapi dia dikuburkan sebagai seorang penjahat. Sang hamba itu dibaringkan di makam orang kaya. Semua itu adalah kehendak dan rencana TUHAN. TUHAN menghajar hamba-Nya dan membuat dia menderita sebagai kurban penebusan dosa. Dia akan hidup selamanya sehingga dapat menyaksikan semua pewarisnya. Kehendak TUHAN akan terlaksana oleh dia.

Gambar Ayat untuk Yesaya 53:2-10

Yesaya 53:2-10 - Sang hamba itu hidup dekat dengan TUHAN sejak masa kecilnya
seperti tunas pohon melekat pada induknya.
Dia akan berjuang menjalani hidup yang berat
bagai benih berusaha tumbuh di tanah yang kering.
Dia bukan orang besar atau terhormat, sehingga orang tidak memandangnya.
Penampilannya pun biasa saja, sehingga tidak menarik perhatian.
Dia dihina dan ditolak.
Dia terbiasa dengan hidup yang berat
dan akrab dengan penderitaan.
Saat dia dicerca, tidak ada yang sudi melihatnya.
Semua orang meninggalkan dia dan tak ada yang peduli padanya.
Padahal dialah yang mengangkat serta menanggung kelemahan dan penyakit kita.
Tetapi kita mengira dia dihukum Allah karena dosanya sendiri.
Sebenarnya, dia ditikam sebagai hukuman atas pemberontakan kita.
Dia dihajar karena dosa-dosa kita.
Dia disiksa, dicambuk,
supaya kita tidak dihukum,
supaya kita yang sudah rusak dipulihkan.
Kita semua sudah meninggalkan Allah
seperti domba yang meninggalkan gembalanya sehingga tersesat.
Tetapi TUHAN menanggungkan semua hukuman kita kepada hamba-Nya itu.
Sang hamba itu dianiaya dan diperlakukan dengan kejam,
tetapi dia tidak mengatakan apa pun untuk membela diri.
Dia hanya diam, seperti anak domba jantan yang akan disembelih
atau domba yang dipangkas bulunya.
Dia disidang dengan tidak adil.
Dia dihukum mati meskipun tak bersalah,
dan tidak ada yang mempedulikannya.
Dia disiksa karena pelanggaran kita, umat Allah.
Dia tidak melakukan kesalahan dan tak pernah menipu,
tetapi dia dikuburkan sebagai seorang penjahat.
Sang hamba itu dibaringkan di makam orang kaya.
Semua itu adalah kehendak dan rencana TUHAN.
TUHAN menghajar hamba-Nya dan membuat dia menderita
sebagai kurban penebusan dosa.
Dia akan hidup selamanya sehingga dapat menyaksikan semua pewarisnya.
Kehendak TUHAN akan terlaksana oleh dia.Yesaya 53:2-10 - Sang hamba itu hidup dekat dengan TUHAN sejak masa kecilnya
seperti tunas pohon melekat pada induknya.
Dia akan berjuang menjalani hidup yang berat
bagai benih berusaha tumbuh di tanah yang kering.
Dia bukan orang besar atau terhormat, sehingga orang tidak memandangnya.
Penampilannya pun biasa saja, sehingga tidak menarik perhatian.
Dia dihina dan ditolak.
Dia terbiasa dengan hidup yang berat
dan akrab dengan penderitaan.
Saat dia dicerca, tidak ada yang sudi melihatnya.
Semua orang meninggalkan dia dan tak ada yang peduli padanya.
Padahal dialah yang mengangkat serta menanggung kelemahan dan penyakit kita.
Tetapi kita mengira dia dihukum Allah karena dosanya sendiri.
Sebenarnya, dia ditikam sebagai hukuman atas pemberontakan kita.
Dia dihajar karena dosa-dosa kita.
Dia disiksa, dicambuk,
supaya kita tidak dihukum,
supaya kita yang sudah rusak dipulihkan.
Kita semua sudah meninggalkan Allah
seperti domba yang meninggalkan gembalanya sehingga tersesat.
Tetapi TUHAN menanggungkan semua hukuman kita kepada hamba-Nya itu.
Sang hamba itu dianiaya dan diperlakukan dengan kejam,
tetapi dia tidak mengatakan apa pun untuk membela diri.
Dia hanya diam, seperti anak domba jantan yang akan disembelih
atau domba yang dipangkas bulunya.
Dia disidang dengan tidak adil.
Dia dihukum mati meskipun tak bersalah,
dan tidak ada yang mempedulikannya.
Dia disiksa karena pelanggaran kita, umat Allah.
Dia tidak melakukan kesalahan dan tak pernah menipu,
tetapi dia dikuburkan sebagai seorang penjahat.
Sang hamba itu dibaringkan di makam orang kaya.
Semua itu adalah kehendak dan rencana TUHAN.
TUHAN menghajar hamba-Nya dan membuat dia menderita
sebagai kurban penebusan dosa.
Dia akan hidup selamanya sehingga dapat menyaksikan semua pewarisnya.
Kehendak TUHAN akan terlaksana oleh dia.

Rencana Bacaan dan Renungan gratis terkait dengan Yesaya 53:2-10