Amsal 26:20-28 - Compare All Versions
Amsal 26:20-28 TSI (Terjemahan Sederhana Indonesia)
Api akan padam ketika kayu bakar habis, begitulah pertengkaran akan berhenti ketika tidak ada lagi yang bergosip. Seperti arang dan kayu membuat api terus menyala, demikianlah orang yang suka berdebat akan mengobarkan pertengkaran. Bergosip terasa sedap di mulut. Orang mengunyahnya seperti makanan dan mempercayainya sepenuh hati. Seperti periuk tanah liat dilapisi perak, demikianlah niat jahat disembunyikan di balik mulut yang manis. Orang yang membenci akan menyusun rencana jahat di hatinya, dan menyembunyikan niat jahat itu dengan berpura-pura ramah. Walaupun baik perkataannya, jangan percaya kepadanya, karena diam-diam dia merencanakan berbagai maksud jahat. Dia bisa menutupi kebenciannya dengan berpura-pura baik, namun pada akhirnya semua orang akan mengetahui kejahatannya. Siapa menggali lubang untuk menjebak orang lain akan jatuh ke lubangnya sendiri. Dan siapa menggulingkan batu untuk mencelakakan orang lain akan tertimpa oleh batu itu sendiri. Berhati-hatilah terhadap pujian yang berlebihan karena sanjungan membuatmu lengah dan terjatuh. Orang yang membencimu pasti berbohong kepadamu.
Amsal 26:20-28 TB (Alkitab Terjemahan Baru)
Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran. Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan. Seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati. Seperti pecahan periuk bersalutkan perak, demikianlah bibir manis dengan hati jahat. Si pembenci berpura-pura dengan bibirnya, tetapi dalam hati dikandungnya tipu daya. Kalau ia ramah, janganlah percaya padanya, karena tujuh kekejian ada dalam hatinya. Walaupun kebenciannya diselubungi tipu daya, kejahatannya akan nyata dalam jemaah. Siapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan siapa menggelindingkan batu, batu itu akan kembali menimpa dia. Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran.
Amsal 26:20-28 BIMK (Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini)
Jika kayu telah habis, padamlah api; jika si bocor mulut sudah tiada, pertengkaran pun berhenti. Seperti arang dan kayu membuat api tetap menyala; begitulah orang yang suka bertengkar membakar suasana. Fitnah itu enak rasanya; orang suka menelannya. Bagaikan periuk tanah disepuh perak, begitulah orang yang manis di mulut, tapi berhati jahat. Si pembenci manis kata-katanya tapi hatinya penuh tipu daya. Meskipun ia ramah, janganlah percaya; karena kebencian menguasai hatinya. Sekalipun ia menyembunyikan kebenciannya, semua orang akan melihat kejahatannya. Siapa menggali lobang untuk orang lain, akan terperosok ke dalamnya. Siapa menggelindingkan batu supaya menimpa orang lain, akan tertimpa sendiri oleh batu itu. Mendustai orang sama saja dengan membencinya. Mulut manis mendatangkan celaka.