Yohanes 18:15-32 - Compare All Versions

Yohanes 18:15-32 TSI (Terjemahan Sederhana Indonesia)

Sewaktu Yesus dibawa ke rumah Hanas, Petrus dan saya (Yohanes) mengikuti rombongan itu dari belakang. Kebetulan saya kenal dengan mantan imam besar, jadi saya langsung ikut masuk saat Yesus digiring ke halaman rumahnya. Tetapi Petrus menunggu di luar dekat pintu pagar halaman. Karena saya sudah dikenal oleh Hanas serta para pembantunya, saya keluar lagi dan berbicara dengan pembantu perempuan yang menjaga pintu itu. Setelah diberi izin, saya mengantar Petrus ke dalam. Pembantu itu sempat bertanya kepada Petrus, “Kamu juga murid orang itu, bukan?” Dan dia menjawab, “Bukan.” Malam itu udara dingin. Jadi para penjaga rumah Allah dan budak-budak imam besar sudah menyalakan api dengan arang. Mereka berdiri menghangatkan badan di sekitar api itu. Petrus juga mendekati mereka dan berdiri di situ untuk menghangatkan badannya. Sementara itu, Hanas menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang apa yang Dia ajarkan. Lalu Yesus menjawab, “Saya selalu berbicara dengan terbuka di depan orang banyak. Saya mengajar di rumah-rumah pertemuan dan di teras rumah Allah, tempat orang Yahudi biasa berkumpul. Saya tidak pernah berbicara secara rahasia. Jadi Bapak tidak perlu bertanya kepada saya tentang hal itu. Tanya saja kepada mereka yang sudah mendengar ajaran saya. Pasti mereka tahu apa yang sudah saya katakan.” Sehabis Yesus berkata begitu, salah satu penjaga yang berdiri di sana menampar Yesus dan berkata, “Jangan bicara seperti itu kepada imam besar!” Lalu Yesus menjawabnya, “Kalau saya mengatakan sesuatu yang melanggar peraturan, seharusnya tunjukkan dulu kesalahan saya sebelum engkau menampar saya. Tetapi kalau perkataan saya yang tadi benar, seharusnya engkau tidak boleh menampar saya!” Kemudian Hanas mengirim Yesus, masih dalam keadaan terikat, kepada Imam Besar Kayafas. Sementara itu, Petrus masih berdiri menghangatkan badannya di dekat api tadi. Lalu orang-orang di dekatnya berkata kepadanya, “Bukankah kamu salah satu murid orang itu?” Tetapi dia menyangkal dan berkata, “Bukan.” Di situ ada juga salah seorang budak imam besar, masih kerabat dari budak yang telinganya dipotong Petrus. Jadi dia berkata, “Sepertinya saya melihatmu tadi bersama Yesus di taman itu, bukan?!” Petrus menyangkal lagi, “Bukan saya!” Dan saat itu juga ayam pun berkokok. Besoknya, pagi-pagi sekali para pemimpin Yahudi membawa Yesus dari rumah Kayafas ke istana gubernur Romawi. Tetapi para pemimpin itu tidak masuk ke dalam istana itu karena orang Yahudi menganggap najis rumah orang yang bukan Yahudi. Mereka tidak mau menajiskan diri sebab hari itu mereka harus tetap siap untuk ikut makan perjamuan Paskah. Karena itu, Pilatus keluar menemui mereka lalu bertanya, “Apa tuduhan kalian terhadap orang ini?” Jawab mereka, “Kalau dia bukan penjahat, kami tidak perlu membawa dia kepada Tuan.” Tetapi Pilatus berkata kepada mereka, “Biarlah kalian saja yang mengadili dia sesuai dengan hukum kalian.” Tetapi para pemimpin Yahudi itu berkata, “Menurut hukum Romawi, kami orang Yahudi tidak diizinkan menjatuhkan hukuman mati.” (Perkataan mereka itu sebenarnya sesuai dengan ketetapan Allah, supaya terjadi tepat seperti yang dikatakan Yesus sebelumnya tentang bagaimana cara Dia akan mati.)

Yohanes 18:15-32 FAYH (Firman Allah Yang Hidup)

Petrus mengikut dari belakang. Demikian juga seorang murid lain yang mengenal imam besar, sehingga ia dibolehkan masuk ke dalam halaman rumah imam besar bersama-sama dengan Yesus, sedangkan Petrus berdiri di luar pintu gerbang. Kemudian murid itu berbicara kepada seorang pelayan perempuan dan Petrus pun diizinkan masuk. Pelayan perempuan itu bertanya kepada Petrus, “Bukankah engkau salah seorang dari murid Yesus?” “Bukan,” jawabnya, “saya bukan murid-Nya!” Polisi-polisi dan pelayan-pelayan rumah sedang berdiri di sekeliling api unggun, karena hari dingin. Petrus berdiri bersama-sama dengan mereka berdiang di sana. Di dalam, imam besar mulai menanyai Yesus mengenai pengikut-pengikut-Nya dan apa yang telah diajarkan-Nya kepada mereka. Yesus menjawab, “Apa yang Aku ajarkan diketahui di mana-mana, sebab Aku selalu berkhotbah di rumah ibadat dan di Bait Allah. Khotbah-Ku didengar oleh semua pemimpin orang Yahudi dan tidak ada sesuatu pun yang Aku rahasiakan. Apa sebabnya engkau mengajukan pertanyaan ini kepada-Ku? Tanyakanlah kepada mereka yang telah mendengar Aku. Di sini ada beberapa dari mereka. Mereka tahu apa yang telah Kukatakan.” Salah seorang prajurit yang berdiri di situ menampar muka Yesus dan berkata, “Itukah caranya menjawab imam besar?” “Kalau Aku berdusta, buktikanlah,” kata Yesus, “patutkah engkau memukul orang yang berkata dengan sebenarnya?” Kemudian Hanas mengirimkan Yesus dengan tangan terikat kepada imam besar, Kayafas. Sementara itu, ketika Simon Petrus sedang berdiri dekat api, ada lagi yang bertanya kepadanya, “Bukankah engkau salah seorang murid-Nya?” “Bukan,” jawabnya. Tetapi salah seorang pelayan imam besar—kerabat orang yang telinganya diparang oleh Petrus sehingga putus—bertanya, “Bukankah aku melihat engkau di kebun zaitun bersama dengan Yesus?” Sekali lagi Petrus menyangkal. Seketika itu juga ayam pun berkokoklah. Pemeriksaan Yesus di hadapan Kayafas berakhir pada dini hari. Kemudian Ia dibawa ke istana gubernur Romawi. Penuduh-penuduh-Nya sendiri tidak mau masuk ke dalam, karena menurut mereka hal itu akan “menajiskan” mereka, dan mereka tidak akan dibolehkan memakan domba Paskah. Sebab itu, Gubernur Pilatus keluar dan bertanya kepada mereka, “Apakah tuduhan kalian kepada Orang ini? Kejahatan apakah yang dituduhkan kepada-Nya?” Mereka menjawab, “Jikalau Ia bukan penjahat, kami tidak akan menangkap-Nya!” “Kalau begitu, bawalah Ia pergi dan adili Dia menurut hukum kalian sendiri,” kata Pilatus kepada mereka. “Tetapi kami ingin supaya Ia disalibkan,” kata mereka, “dan persetujuan Tuan diperlukan.” Ini menggenapkan nubuat Yesaya tentang cara pelaksanaan hukuman mati-Nya.

Yohanes 18:15-32 AMD (Perjanjian Baru: Alkitab Mudah Dibaca)

Simon Petrus, dan seorang pengikut lain pergi dengan Yesus. Pengikut ini mengenal Imam Besar. Jadi, ia ikut masuk bersama Yesus ke halaman istana Imam Besar. Sedangkan, Petrus menunggu di luar di dekat pintu. Pengikut yang mengenal Imam Besar itu kembali ke luar dan bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu. Kemudian ia membawa Petrus masuk. Perempuan penjaga pintu itu bertanya kepada Petrus, “Bukankah kamu adalah salah seorang pengikut dari Orang itu?” Petrus menjawab, “Bukan!” Waktu itu, udara terasa dingin sehingga para pembantu dan penjaga membuat perapian dan berdiri menghangatkan badan di dekatnya. Petrus juga berdiri bersama mereka. Kemudian Imam Besar mulai bertanya kepada Yesus tentang pengikut-Nya dan tentang ajaran-Nya. Yesus menjawab, “Aku selalu berbicara dengan terbuka kepada semua orang. Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadah dan di halaman Bait Allah yang menjadi tempat berkumpulnya semua orang Yahudi. Aku tidak pernah berbicara secara sembunyi-sembunyi. Jadi, mengapa engkau bertanya kepada-Ku? Tanyakanlah kepada mereka yang mendengar ajaran-Ku. Mereka tahu apa yang telah Kukatakan.” Ketika Yesus berkata demikian, seorang penjaga yang berdiri di situ menampar-Nya dan berkata, “Begitukah caramu menjawab Imam Besar?” Yesus menjawab, “Jika perkataan-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya. Tetapi jika perkataan-Ku itu benar, mengapa kamu menampar Aku?” Lalu Hanas mengirim Yesus dalam keadaan terikat kepada Imam Besar Kayafas. Simon Petrus masih berdiri menghangatkan tubuh di dekat perapian, orang-orang di situ bertanya kepadanya, “Bukankah kamu adalah salah satu pengikut Orang itu?” Petrus menjawab, “Bukan.” Salah seorang pelayan Imam Besar ada di situ. Ia merupakan keluarga dari orang yang telinganya dipotong oleh Petrus. Pelayan itu berkata, “Bukankah aku melihatmu bersama Dia di taman itu?” Tetapi sekali lagi Petrus berkata, “Tidak, aku tidak bersama Dia!” Segera sesudah Petrus mengatakannya, ayam pun berkokok. Ketika hari masih pagi, para penjaga membawa Yesus dari rumah Kayafas ke istana gubernur Roma. Para pemimpin Yahudi yang ada di sana tidak mau masuk ke dalam istana itu. Mereka tidak mau menajiskan diri, sebab mereka akan makan perjamuan Paskah. Jadi, Pilatus keluar menemui mereka dan bertanya, “Apa tuduhanmu terhadap Orang ini?” Mereka menjawab, “Ia adalah seorang penjahat. Karena itulah kami membawanya kepadamu.” Pilatus berkata kepada mereka, “Bawalah Dia dan hakimilah menurut hukum kalian.” Tetapi para pemimpin Yahudi itu menjawab, “Hukum kami tidak memperbolehkan kami untuk membunuh orang.” Dengan mengatakan itu, terjadilah apa yang dikatakan Yesus tentang bagaimana Ia akan mati.

Yohanes 18:15-32 TB (Alkitab Terjemahan Baru)

Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. Maka kata hamba perempuan penjaga pintu kepada Petrus: ”Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: ”Bukan!” Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya. Jawab Yesus kepadanya: ”Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.” Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: ”Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?” Jawab Yesus kepadanya: ”Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu. Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: ”Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?” Ia menyangkalnya, katanya: ”Bukan.” Kata seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: ”Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?” Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam. Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah. Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: ”Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?” Jawab mereka kepadanya: ”Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” Kata Pilatus kepada mereka: ”Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.” Kata orang-orang Yahudi itu: ”Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Yohanes 18:15-32 BIMK (Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini)

Simon Petrus dan seorang pengikut lain mengikuti Yesus. Pengikut yang lain ini dikenal oleh imam agung; jadi ia turut masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman rumah imam agung, sedangkan Petrus menunggu di luar, di pintu. Kemudian pengikut yang lain itu pergi ke luar dan berbicara dengan pelayan wanita yang menjaga pintu, lalu membawa Petrus masuk ke dalam. Pelayan wanita penjaga pintu itu berkata kepada Petrus, “Hai, bukankah engkau juga salah seorang pengikut orang itu?” “Bukan,” jawab Petrus. Pada waktu itu udara dingin, jadi pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal sudah menyalakan api arang dan mereka menghangatkan badan di situ. Petrus pergi ke sana dan berdiri berdiang bersama mereka. Imam agung menanyai Yesus tentang pengikut-pengikut-Nya dan tentang ajaran-Nya. Yesus menjawab, “Aku selalu berbicara dengan terus terang di muka umum. Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Rumah Allah, tempat orang Yahudi biasanya berkumpul. Tidak pernah Aku mengatakan apa-apa dengan sembunyi-sembunyi. Jadi mengapa Tuan menanyai Aku? Tanyalah mereka yang sudah mendengar Aku mengajar. Pasti mereka tahu apa yang Kukatakan.” Ketika Yesus berkata begitu, salah seorang pengawal di situ menampar-Nya dan berkata, “Berani sekali Engkau bicara seperti itu kepada imam agung!” Yesus menjawab, “Kalau Aku mengatakan sesuatu yang salah, katakanlah di sini apa kesalahannya! Tetapi kalau yang Kukatakan itu memang benar, mengapa engkau menampar Aku?” Kemudian Hanas menyuruh orang membawa Yesus dengan terbelenggu kepada Imam Agung Kayafas. Simon Petrus masih juga berdiri berdiang di situ. Orang-orang berkata kepadanya, “Bukankah engkau juga pengikut orang itu?” Tetapi Petrus menyangkal, katanya, “Bukan!” Seorang hamba imam agung, yaitu keluarga dari orang yang telinganya dipotong Petrus, berkata, “Bukankah saya melihat engkau di taman itu bersama-sama dengan Dia?” Lalu Petrus menyangkalnya lagi, “Tidak,” -- dan tepat pada saat itu ayam berkokok. Pagi-pagi sekali mereka membawa Yesus dari rumah Kayafas ke istana gubernur. Orang-orang Yahudi sendiri tidak masuk ke dalam istana, supaya mereka tidak menjadi najis secara agama, karena mereka mau ikut makan makanan Paskah. Karena itu Pilatus pergi ke luar pada mereka dan bertanya, “Apa pengaduanmu terhadap orang ini?” Mereka menjawab, “Seandainya Ia tak bersalah, kami tak akan membawa-Nya kepada Bapak Gubernur.” Pilatus berkata kepada mereka, “Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukummu sendiri!” Tetapi orang-orang Yahudi itu menjawab, “Kami tidak boleh menghukum mati orang.” ( Ini terjadi supaya terlaksana apa yang dikatakan Yesus mengenai caranya Ia akan mati.)